Berita Perikanan

Pemanfaatan Ikan Tuna Sirip Biru Selatan, Indonesia Dapat Kuota 750 Ton

Pemanfaatan Ikan Tuna Sirip Biru Selatan
(kiri ke kanan) Executive Secretary CCSBT Robert Kennedy, Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan Reza Shah Pahlevi, Chair of Annual Meeting CCSBT Indra Jaya saat memberikan keterangan kepada pers (9/10) (Foto: Cahyo-Humas DJPT) Doc. KKPNews

Infomaritim, Jakarta – Indonesia mendapatkan kuota pemanfaatan ikan tuna sirip biru selatan sebesar 750 ton di tahun 2017. Angka tersebut sudah termasuk dengan tambahan sebesar 149 ton yang merupakan sisa dari kuota dari tahun 2016 yang hanya mampu mencapai 600 ton.

“Kita optimis tahun ini tercapai. Pada sidang sebelumnya sudah ditentukan pula kuota untuk tahun 2018 hingga 2020 yang mencapai 1.023 ton”, ucap Reza Shah Pahlevi, Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Ditjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat memberikan keterangan pers dalam pertemuan internasional Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) tahun 2017 di Yogyakarta, Senin (9/10).

Dalam pertemuan CCSBT tersebut, Indonesia menjamin pemanfaatan kuota jenis tuna tersebut secara maksimal dan akan dievaluasi oleh seluruh negara anggota. Rata-rata hasil penangkapan ikan tuna sirip biru selatan di Indonesia dari 2005 – 2016 adalah sebesar 935 ton/tahun.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga terus berupaya untuk memberantas illegal, unreported and unregulated fishing (IUUF) dengan meningkatkan pengawasan terhadap semua produk perikanan Indonesia termasuk komoditi tuna untuk mendapatkan penanganan yang baik dan bebas dari aksi IUUF.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan Tuna Fisheries Management Plan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesai Nomor 107/ KEPMEN-KP/2015 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Tuna, Cakalang dan Tongkol sebagai referensi dasar pengelolaan perikanan tuna di Indonesia.

Reza juga menambahkan pihaknysa sedang melakkan kajian terkait pelabuhan pangkalan di laut lepas. Pelabuhan pangkalan tuna tersebut yaitu Pelabuhan Perikanan (PP) Bungus, PP Cilacap dan PP Teluk Awang untuk kawasan Samudera Hindia. Sedangkan Kawasan Samudera Pasifik yaitu PP Biak, PP Morotai, dan PP Ternate.

“Kita akan terus dorong pengelolaan perikanan tuna yang berkelanjutan, mengingat Indonesia turut menyumbang hamper 16% total produksi global atau sekitar 1.1 juta ton dari total sekitar 7,7 juta metric ton tuna dan spesies sejenis ikan tuna yang ditangkap di seluruh dunia”, tandas Reza. (SS)

Sumber: KKPNews