Berita Perikanan

Industri perikanan Di Bitung Meningkat, Perusahaan Pengolahan Kurang Bahan Baku

industri perikanan bitung
Nelayan Bitung Doc. Katadata

Infomaritim, Jakarta – Industri perikanan kota Bitung menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bitung. Hal tersebut dibuktikan dengan data laporan Badan Pusat Statistik (BPS) PDRB Kota Bitung 2012 – 2016 yang menunjukkan angka sebesar 17,86%. Namun, tingginya hasil tangkapan nelayan berbanding terbalik dengan data penjualan hasil tangkapan di Kota Bitung.

Pabrik pengolahan ikan yang berada di wilayah Kota Bitung mengalami kekurangan stok bahan baku ikan dikarenakan harga yang ditawarkan oleh nelayan lebih mahal dibanding harga yang dipatok pelaku usaha. Nelayan daerah akhirnya menjual hasil tangkapannya ke luar Bitung seperti ke Jakarta dan Surabaya.

“Salah satu opsi penyelesaian masalah kekurangan bahan baku di pabrik pengolahan ikan, penangkap wajib menjual 70% hasil tangkapannya untuk pabrik pengolahan di Bitung dan sekitarnya, sebelum dijual keluar wilayah Sulawesi Utara. Dari 70-an Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Sulawesi Utara, 56 UPI ada di Bitung”, ungkap Ronal Sorongan, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Utara yang tengah mengupayakan penyelesaian dengan penyusunan Peraturan Daerah (Perda).

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Sjarief Widjaja mengatakan, ada hal-hal yang perlu diperbaiki yaitu, Pertama mengubah business model lama, UPI sekarang harus bermitra dengan nelayan atau kapal penangkap ikan local. Di sisi lain, perusahaan pengolahan ikan terkadang menggunakan sistem yang merugikan nelayan dengan membayar tidak tunai kepada nelayan. Kedua, memberikan pelatihan ke nelayan tentang jenis dan kualitas ikan yang diterima oleh pabrik.

Direktur Jenderal Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo mengatakan bahwa industri perikanan harus siap menghadapi tantangan yang lebih berat ke depannya. Industri perikanan terutama di Pangalengan sedang mengalami penurunan. Maka dari itu, Nilanto menilai impor dapat dilakukan sebagai pilihan pengganti dan hanya bila sangat dibutuhkan.

“Jika industry di Bitung ingin memenuhi pasokan bahan bakunya, maka harus berani bersaing dengan harga yang ditawar di Pulau Jawa”, ujar Nilanto. (SS)

Sumber: Katadata