Berita Kebijakan & Regulasi Perikanan

Perangi Kejahatan Perikanan Transnasional, Menteri Susi Ajak Negara Lainnya

menteri susi ajak negara lain perangi kejahatan perikanan
Menteri Susi berpose di depan karya artistik mural yang bergambar dirinya di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Rabu (20/9). Doc. Kompas.com

Infomaritim, Jakarta – Pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing masih menjadi fokus utama pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). KKP berusaha meningkatkan kesadaran negara-negara lainnya akan bahaya IUU Fishing yang sering diiringi dengan kejahatan industry perikanan yang bersifat lintas batas dan terorganisir (Transnational Organized Crime).

Menurut informasi yang dilansir oleh Kompas.com, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menghadiri Pembukaan The 3rd International Symposium on Fisheries Crime di markas UNODC Vienna Austria, Senin (25/9). Turut hadir Menteri Perikanan Norwegia Per Sandberg, Sekretaris Jenderal Dewan Menteri Norwegia Dagfinn Hoybraten, dan Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan Budidaya, dan Perikanan Tangkap Republik Ekuador Ana Katuska Drouet.

Melalui acara symposium tersebut, Menteri Susi mengatakan bahwa kejahatan yang terjadi pada industry perikanan lintas batas dan terorganisir ini mengancam keberlanjutan pangan, dan berdampak buruk pada ekonomi, merusak lingkungan, dan merongrong hak asasi manusia. Tak hanya itu, banyak orang-orang di negara setempat yang terlibat akan kejahatan-kejahatan yang terjadi. Kejahatan yang terjadi berkaitan dengan asuransi, kepemilikan kapal, dan perizinan kapal, hingga korupsi dalam perolehan izin, pemalsuan dokumen, penggelapan pajak, pencucian uang, perdagangan orang, dan perdagangan obat-obatan terlarang.

“FV Viking adalah salah satu contoh praktik penangkapan ikan illegal dan melanggar kedaulatan suatu negara. Kapal ini memiliki 25 bendera sehingga kapal dapat berganti bendera setiap saat. Mereka juga dengan mudahnya memalsukan dokumen registrasi dan perizinan. Kita semua juga telah menyaksikan kapal FV Hua Li 8, kapal berbendera Tiongkok yang telah melakukan penangkapan gurita illegal di perairan Argentina”, papar Menteri Susi dalam pidatonya.

Acara The 3rd International Symposium on Fisheries Crime merupakan acara lanjutan dari symposium sebelumnya yang dilaksanakan di Yogyakarta (Oktober 2016) & Cape Town, Afrika Selatan (September 2015). Di symposium kali ini terselenggara atas kerjasama antara UNODC, Pemerintah RI, Pemerintah Norwegia, INTERPOL, The Nordic Council of Ministers, The North-Atlantic Fisheries Intelligence Group (NA-FIG), dan PescaDOLUS Network.

Topik-topik pembahasan dalam symposium ini berkaitan dengan tantangan global dalam menangani kejahatan perikanan, yaitu kejahatan dalam rantai sector perikanan, kejahatan perikanan lintas negara yang terorganisir, perdagangan orang, Program-program meningkatkan kapasitas (capacity building), dan peran Inter-governmental Organization dalam membantu negara-negara memerngi kejahatan.

Acara ini bertujuan untuk memperkuat komitmen internasional untuk memberantas kejahatan perikanan melalui suatu pernyataan bersama (joint statement), menghasilkan langkah-langkah pemberantasan kejahatan perikanan internasional, serta meningkatkan kesadaran global terkait isu tersebut. (SS)

Sumber: Kompas.com